Rivalitas di dalam sepakbola adalah hal yang biasa. Bisa
dibilang pertandingan akan terasa lebih seru dan menegangkan kalau ada
rivalitas yang tajam di antara kedua tim. Persaingan bisa terjadi antar
para pemain, pelatih, suporter maupun tim. Rivalitas bisa saja berdampak
pada ketegangan di dalam maupun di luar lapangan dan bahkan menimbulkan
perkelahian dan kerusuhan. Tentunya hal-hal negatif seperti itu tidak
diharapkan.
Ketegangan dan serunya pertandingan di dalam
lapangan tentunya lebih diharapkan. Di Liga Primer Inggris misalnya,
persaingannya sangat tajam dan banyak terjadi rivalitas yang menarik
untuk ditonton. Mulai dari tim papan atas sampai papan bawah banyak
terjadi rivalitas, terutama melibatkan tim sekota. Salah satunya adalah
Liverpool, salah satu tim paling berprestasi di Inggris dan Eropa.
Walaupun prestasi mereka dalam beberapa tahun terakhir tidak terlalu
cemerlang, tapi persaingan mereka dengan tim lain tetap menarik untuk
diikuti.
Ada sejumlah tim yang menjadi rival mereka di kompetisi
domestik. Tapi yang paling menonjol adalah rivalitas dengan tim sekota
mereka, Everton. Kedua tim sudah saling bertemu sejak 1894. Tim lain
adalah Chelsea dan Manchester United. Sedangkan di Eropa ada rivalitas
dengan Juventus. Meski keduanya tidak terlalu sering bertemu tapi ada
sejarah kelam yang membuat hubungan kedua klub sempat tegang.
Tentunya
ada rivalitas dengan klub-klub lain seperti Arsenal dan Tottenham di
liga lokal, atau dengan AC Milan dan Real Madrid di Eropa. Namun tensi
ketegangan pertemuan dengan tim-tim tersebut tidak terlalu tinggi dan
hubungan Liverpool dengan mereka juga tidak sepanas dengan empat rival
utama mereka. GOAL.com akan membahas rivalitas Liverpool dengan empat klub tersebut.
JUVENTUS
Persaingan Liverpool dan Juventus tentunya hanya terjadi di kompetisi
Eropa, terutama di Liga Champions. Walaupun begitu, intensitas
ketegangan antara kedua tim sangat tinggi karena melibatkan korban jiwa.
Para pemerhati sepakbola tentu sudah mahfum dengan tragedi Heysel di
tahun 1985. Momennya adalah final (waktu itu) Piala Champions pada 29
Mei 1985 di stadion Heysel yang menewaskan 39 orang penonton, 32 di
antaranya adalah pendukung Juve.
Sejumlah hooligan atau
pendukung garis keras Liverpool dinilai sebagai pihak yang bertanggung
jawab atas kerusuhan tersebut. Sebagai buntut dari tragedi berdarah itu,
semua klub Inggris dilarang berkompetisi di Eropa selama lima tahun,
sedangkan Liverpool dihukum selama enam tahun. Hukuman itu sempat
membuat sejumlah pemain merasa tidak kerasan karena tidak bisa merasakan
ketatnya persaingan di Eropa. Salah satunya adalah Ian Rush. Secara
mengejutkan, striker terbaik yang pernah dimiliki Liverpool itu setuju
untuk pindah ke Juve di musim 1987/88.
Kepindahan Rush ke klub
asal Italia itu dinilai sebagai transfer bernilai politis yaitu untuk
memperbaiki hubungan kedua klub. Sayangnya, Rush hanya bertahan semusim
karena merasa tidak kerasan tinggal di Italia. Ditambah lagi pola
permainan klub-klub Italia yang lebih mengutamakan pertahanan sehingga
Rush hanya mampu membuat tujuh gol dalam 29 laga selama memperkuat The Old Lady. Padahal di musim sebelumnya, ia mencetak 30 gol dalam 42 laga di Liverpool.
Pemain
asal Wales itu kemudian kembali ke Anfield di musim berikutnya.
Liverpool dan Juventus baru bertemu kembali di kompetisi Eropa pada
musim 2004/05 yaitu di perempat-final Liga Champions. Saat laga pertama
di Anfield, di tribun The Kop mengkoordinasikan sebuah koreografi mosaik
bertuliskan ‘Amicizia’ yang ditujukan kepada para suporter Juve yang
memadati Anfield. Artinya persahabatan, sebuah permohonan maaf kepada
tifosi Juve. Sebagian tifosi menyambutnya dengan baik, namun tidak
sedikit pula yang menolaknya karena rentang waktu uluran persahabatan
tersebut terlalu lama, 20 tahun sejak tragedi Heysel pecah.
Kali ini The Reds
berhasil membalaskan dendam mereka dengan menyingkirkan Juve. Seperti
sebuah kebetulan, Liverpool akhirnya memuncaki Liga Champions di musim
itu. Setelah itu kedua tim belum bertemu lagi di Eropa terutama setelah
Liverpool selalu gagal lolos ke Liga Champions dalam beberapa musim
terakhir. Namun di tahun 2012 kemarin tensi ketegangan kedua tim sempat
terangkat kembali. Kali ini bukan terjadi di dalam lapangan tapi di
bursa transfer.
Waktu itu, Del Piero yang kontraknya sudah tidak
diperpanjang di Juve diminati beberapa klub dan kabarnya salah satunya
adalah Liverpool. Hal itu sempat diungkapkan Del Piero saat ia
memutuskan bergabung dengan Sydney FC. Pemain legendaris Juve dan Italia
itu menandaskan kalau Liverpool memang tertarik mendatangkannya tapi ia
tidak berminat karena menghormati para fans sehubungan dengan Tragedi
Heysel. Tentunya akan menarik, terutama menantikan sikap para fans,
kalau kedua klub bertemu kembali di Eropa di masa-masa mendatang.
CHELSEA
Tensi ketegangan antara Liverpool dengan Chelsea sebenarnya baru
meninggi dalam sepuluh tahun terakhir. Kedatangan Jose Mourinho di tahun
2004 dan prestasi mereka yang mulai menanjak membuat The Reds
seperti mendapat rival baru. Persaingan mereka uniknya lebih banyak
terjadi di kompetisi Eropa maupun ajang piala. Di Liga Primer, prestasi
Liverpool memang sedang berbanding terbalik dengan Liverpool. Dalam
sepuluh tahun terakhir, The Blues meraih tiga gelar liga sedangkan Liverpool kosong.
Sebaliknya,
saat Liverpool meraih gelar liga ke-18 pada musim 1989/90, Chelsea baru
meraih satu gelar liga. Kebangkitan Chelsea di pertengahan 1990-an dan
kedatangan Roman Abramovich pada 2003 yang berani menggelontorkan
banyak dana, membuat persaingan semakin ketat. Liverpool memang belum
kunjung bangkit di liga, tapi mereka masih punya taji di Eropa. Masuknya
Mourinho sebagai pelatih Chelsea di tahun 2004 bersamaan dengan
kedatangan Rafael Benitez di Anfield.
Awalnya hubungan kedua
pelatih masih adem-adem saja, apalagi Mourinho pernah berkarir di
Spanyol sebagai asisten pelatih Barcelona. Hubungan keduanya mulai
memanas saat Chelsea mengalahkan Liverpool di final Piala Liga pada
akhir Februari 2005. Saat Steven Gerrard membuat gol bunuh diri yang
membuat skor menjadi imbang 1-1, Mourinho berlari ke tribun pendukung
Liverpool dan membuat isyarat dengan menempatkan jari tengahnya ke
bibirnya. Pelatih asal Portugal itu tentunya mendapat cemohan dari fans The Reds dan diperingatkan wasit untuk kembali ke bangku cadangan.
Benitez
pun menyoroti sikap Mourinho yang dinilai kurang sportif. Rivalitas
kedua klub pun dimulai dan mencapai puncaknya di ajang semi-final Liga
Champions di musim yang sama. Setelah leg pertama di Stamford Bridge
yang berakhir 0-0, laga kedua digelar di Anfield. Di awal babak pertama,
Luis Garcia dinilai membuat gol ke gawang Chelsea sehingga Liverpool
unggul 1-0. Tapi Chelsea memprotes keras keputusan wasit karena bola
dianggap sudah diamankan oleh William Gallas sebelum melewati garis
gawang. Protes mereka tak ditanggap wasit dan Liverpool tetap unggul
sampai laga berakhir.
Liverpool akhirnya berhasil menjadi juara
setelah di laga final mengalahkan Milan melalui adu tendangan penalti.
Mourinho masih tak menerima hasil tersebut dan menilai gol Garcia
sebagai gol siluman yang tidak pernah melewati garis gawang. Hubungannya
dengan Benitez juga menjadi tegang dan mereka bahkan beberapa kali
tidak berjabat tangan baik sebelum maupun sesudah pertandingan di
laga-laga selanjutnya. Entah kebetulan atau tidak, kedua tim bertemu
kembali di babak penyisihan grup Liga Champions musim berikutnya.
Hal
itu dimungkinkan karena Liverpool lolos ke ajang ini sebagai juara
bertahan bukan karena prestasi mereka di liga sehingga tidak menjadi tim
unggulan. Pertemuan kedua tim tetap memanas tapi tidak ada gol yang
terjadi baik di Stamford Bridge maupun Anfield. Sempat terjadi
kontroversi saat Michael Essien terkena kartu merah karena dinilai
terlalu keras melanggar gelandang Liverpool, Didi Hamann. Kedua pelatih
kembali bersitegang. Mourinho menilai keputusan wasit dan reaksi Hamann
terlalu berlebihan, sementara Benitez menganggap Essien pemain yang
kasar dan sudah berniat melukai Hamann.
Kedua tim kembali
bertemu di semi-final Liga Champions musim berikutnya yaitu musim
2006/07. Kali ini tak ada kontroversi tapi pertandingan tetap berjalan
seru dan dramatis. Chelsea menang 1-0 di Stamford Bridge dan Liverpool
juga membalas dengan skor serupa di Anfield sehingga laga harus
berlanjut sampai extra-time dan adu penalti. Liverpool kembali berjaya
dan lolos ke final setelah menang dalam drama adu tendangan 12 Pas.
Lagi-lagi tak ada jabat tangan antara kedua manajer. Laga itu ternyata
menjadi pertemuan terakhir Mourinho dengan Benitez di kompetisi Eropa.
Di
musim berikutnya, kedua tim seperti sudah berjodoh dan kembali bertemu
di babak semi-final. Bedanya, Chelsea ditangani Avram Grant yang
menggantikan posisi Mourinho yang dipecat di awal musim 2007/08. Di laga
pertama di Anfield, Liverpool lengah di menit-menit akhir dan John Arne
Riise membuat gol bunuh diri yang membuat skor menjadi sama 1-1.
Sebelum laga kedua di Stamford Bridge, Benitez mengkritik Dider Drogba
yang dinilai sebagai pemain kurang sportif karena sering melakukan
diving.
Hal itu seperti menjadi bumerang buat Benitez karena
Drogba tampil penuh semangat dan membuat dua gol dalam laga tersebut.
Chelsea pun lolos ke final dan menuntaskan dendamnya terhadap Liverpool.
Di musim berikutnya, lagi-lagi kedua tim bertemu tapi kali ini di
perempat-final. Benitez menghadapi pelatih yang lebih senior, Guus
Hiddink, yang mampu membuat Chelsea tampil lebih memikat dan produktif.
Chelsea kembali menjadi pemenang dengan agregat gol 7-5 dan lolos ke
semi-final.
Itu adalah momen terakhir pertemuan kedua tim di
Eropa. Di kompetisi domestik pertemuan kedua tim memang tidak sepanas di
Eropa. Tensi baru memanas kembali setelah Fernando Torres hijrah ke
Chelsea di pertengahan musim 2010/11. Penyerang asal Spanyol dianggap
sebagai pengkhianat karena pindah ke klub yang termasuk rival utama
Liverpool. Sejak itu, pertemuan kedua tim selalu berlangsung sengit dan
panas. Meski prestasi Chelsea di liga masih di atas Liverpool tapi dalam
beberapa kesempatan The Reds justru mampu mengalahkan rivalnya itu. Dan
kebetulan, sampai musim lalu Torres belum berhasil menjebol gawang
mantan klubnya itu.
EVERTON
Perseteruan dengan Everton adalah perseteruan klasik antara tim sekota.
Sudah menjadi sesuatu yang lumrah kalau klub dari kota yang sama saling
berseteru. Tiap tim pasti mengklaim sebagai yang terbaik di kota mereka.
Begitu pula dengan Everton dan Liverpool. Dalam hal sejarah, Everton
memang lebih dulu terbentuk yaitu pada tahun 1878 dan bermarkas di
Anfield.
Pertentangan antar para petinggi klub dan dengan
pemilik stadion Anfield, membuat salah satu petinggi mereka John
Houlding memutuskan untuk hengkang. Para petinggi lainnya tetap bertahan
di Everton tapi memindahkan stadion atau markas mereka ke Goodison
Park. Sementara Houlding mendirikan klub baru yang diberi nama Liverpool
FC dan bermarkas di Anfield pada Maret 1892. Hal itu diyakini menjadi
awal pemicu persaingan dan rivalias di antara kedua klub.
Pertemuan
kedua tim sering disebut dengan 'Merseyside Derby' dan merupakan derby
terlama di level teratas persepakbolaan Inggris karena selalu digelar
setiap tahun sejak musim 1962/63. Namun laga kedua tim juga kerap
disebut ‘friendly derby’ karena penonton yang terdiri dari satu
keluarga, ada yang jadi pendukung Everton dan Liverpool. Karenanya,
sudah jadi pemandangan biasa di tribun pendukung Everton ada pendukung
Liverpool yang ikut bergabung dan begitu juga sebaliknya. Bahkan di
final Piala Liga 1984 yang mempertemukan kedua tim, hampir semua
pendukung mereka kompak menyanyikan yel-yel ‘Merseyside’ dan ‘Are you
watching Manchester?’
Walaupun begitu, pertandingan di dalam
lapangan tetap berlangsung seru, intens dan terkadang diwarnai
kontroversi. Sejak era Liga Primer di awal 1990-an, laga kedua tim
adalah laga yang paling banyak diwarnai kartu merah. Untuk rekor
pertemuan, Liverpool masih lebih unggul. Dari total 219 laga, Liverpool
memenangkan 88 laga, Everton 66 laga dan 65 laga berakhir imbang. Di
Liga Primer, Liverpool menang dalam 18 laga, Everton memenangkan
sembilan laga dan 14 laga berakhir imbang. Ian Rush menjadi pemain
Liverpool paling produktif di 'Merseyside Derby' dengan mencetak 25 gol
di semua kompetisi, disusul pemain Everton, Dixie Dean dengan 19 gol.
Di
balik rivalitas mereka, kedua tim ternyata juga sering bertukar
pemain.Bahkan Liverpool memegang rekor sebagai klub yang paling sering
mendatangka pemain dari Everton dibandingkan klub mana pun. Namun
Liverpool sempat membuat kebijakan dengan tidak mendatangkan pemain
langsung dari Everton dalam kurun waktu cukup lama, dari tahun 1959
sampai 2000. Everton juga sempat menerapkan aturan serupa di tahun 1961
sampai 1982.
Di musim lalu kedua tim sama-sama bermain imbang
dalam dua laga. Di laga pertama di Goodison Park, sempat terjadi
kontroversi saat Suarez merayakan gol yang dicetaknya di hadapan pelatih
Everton saat itu, David Moyes. Namun Moyes tidak terlalu menanggapinya
dan timnya mampu mengejar ketertinggalan dua gol dengan memaksakan hasil
imbang 2-2. Dalam pertemuan terakhir keduanya, pada Mei lalu di
Anfield, juga berakhir imbang tapi kali ini tak ada gol yang tercipta.
Dalam hal prestasi, Liverpool memang lebih unggul. The Reds
sudah 18 kali menjuarai liga, sedangkan Everton baru lima kali.
Liverpool juga banyak meraih gelar lainnya, termasuk di level Eropa.
Namun dalam dua musim terakhir, Everton selalu finis di atas Liverpool.
Tentunya akan sangat menarik mengamati persaingan dua klub sekota ini di
musim-musim selanjutnya.
MANCHESTER UNITED
Persaingan Liverpool dan Manchester United adalah soal gengsi dan
kesuksesan. Rivalitas antara MU dengan Liverpool biasanya disebut
sebagai North West Derby atau derby Barat Laut, karena kedua daerah
tersebut berada di Barat Laut kepulauan Inggris. Namun, persaingan
keduanya juga diakibatkan persaingan antara industri kedua kota yang
memuncak saat revolusi industri.
Persaingan antara Manchester
dengan Liverpool bisa dibilang sebagai dampak dari kedekatan kedua kota
dalam segi bisnis sejak era 1800-an. Manchester dikenal dengan
kehebatannya di bidang manufaktur, sedangkan Merseyside tersohor dengan
pelabuhannya, yang jadi bagian penting negara Inggris saat itu.
Rivalitas
kedua tim juga disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di
Inggris. Kedua tim memang terdepan salam soal prestasi. Total, mereka
sudah meraih 120 piala, 61 piala disabet United dan 59 piala diteguk
Liverpool. United sudah meraih 20 piala Liga Primer, diikuti Liverpool
dengan 18 piala. Di Eropa, Liverpool sedikit lebih unggul karena sudah
merebut lima gelar Liga Champions yang membuat mereka mendapatkan ‘Badge
of Honour’ dari UEFA, sedangkan United ‘baru’ tiga kali juara.
Mereka
juga bersaing ketat dalam hal kekayaan dan jumlah penggemar di seluruh
dunia. Dalam dua dekade terakhir, prestasi United memang jauh
mengungguli Liverpool, terutama di kompetisi domestik. Namun itu tidak
mengurangi intensitas dan ketegangan kedua tim tiap kali mereka
bertanding. Pelatih legendaris United yang baru saja pensiun, Sir Alex
Ferguson, kerap mengatakan bahwa laga melawan Liverpool selalu penting
dan pantang bagi timnya untuk kalah.
Sementara pemain legendaris The Red Devils
yang masih aktif, Ryan Giggs bahkan pernah menandaskan,”Pertandingan
antara United dengan Liverpool mungkin adalah pertandingan terbesar di
persepakbolaan Inggris.” Giggs merupakan pemain yang paling sering
tampil (43 laga) dalam pertemuan United dan Liverpool. Laga kedua tim
kerap digelar tidak lama setelah waktu makan siang di Inggris yang
membuat para fans mengurungkan niat untuk menenggak minuman beralkohol
sebelum menyaksikan laga akbar tersebut. Suporter kedua tim sudah
terbiasa saling mengejek dan berseteru baik selama di stadion maupun di
luar stadion termasuk melalui media massa.
Di dalam lapangan,
pertemuan keduanya sering menghasilkan laga yang seru, menegangkan,
dramatis dan fantastis. Persaingan di luar lapangan tak kalah panas.
Yang paling terasa adalah rivalitas di bursa transfer. Michael Owen
adalah pemain terakhir yang pernah memperkuat Liverpool maupun United.
Namun Owen tidak langsung datang ke United. Setelah pergi dari Liverpool
pada 2004, pemain yang baru saja pensiun itu hijrah dulu ke Real
Madrid, lalu ke Newcastle United dan baru ke United pada musim 2009/10.
Nah, pemain terakhir yang pindah langsung dari Liverpool ke United atau
sebaliknya adalah Phil Chisnall. Ia pindah dari United ke Liverpool pada
April 1964!
Bek Argentina, Gabriel Heinze hampir saja
mematahkan rekor tersebut. Ia mengutarakan niatnya untuk hengkang dari
United pada 2007, tapi tujuannya adalah ke Liverpool setelah pelatih
mereka saat itu, Rafael Benitez, berminat menggaetnya ke Anfield.
Rencana itu ternyata mendapat tentangan keras dari Ferguson. Menurut
beberapa media Inggris, Liverpool sempat mengajukan tawaran tapi
kemudian ditolak oleh United. Ferguson pun murka dan hubungannya yang
kurang bagus dengan Benitez menjadi semakin buruk.
Keduanya
terlibat perang kata-kata melalui media. Padahal, Heinze bukan lagi
pemain utama United dan ia memutuskan untuk pergi karena lebih banyak
duduk di bangku cadangan. Heinze sendiri akhirnya bergabung dengan Real
Madrid, namun hubungan Ferguson dan Benitez maupun United dan Liverpool
tetap tegang dan saling benci sampai sekarang. Menarik untuk menunggu
rivalitas keduanya di bawah Moyes yang pernah membesut Everton, rival
sekota Liverpool. Mampukah Rodgers mendobrak kemapanan United atau
justru Moyes yang mampu meneruskan kedigdayaan United terhadap
Liverpool?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar